Tomohon, kanalkita.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, mempelajari pengalaman 25 tahun pengelolaan energi panas bumi di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lahendong, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Selasa (3/11/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan melihat secara langsung perjalanan pengembangan panas bumi, mulai dari proses eksplorasi, operasional pembangkit, manfaat ekonomi bagi masyarakat, keterlibatan tenaga kerja lokal hingga pengelolaan dampak lingkungan dan sosial.
Sebelum bertolak ke PLTP Lahendong di Tompaso, Johni bersama rombongan diterima di Kantor Area PGE Lahendong, Jalan Raya Tomohon, Kelurahan Kolongan Satu, Kecamatan Tomohon Selatan.
Rombongan diterima General Manager PGE Area Lahendong Yanuaris Dwi Cahyono, Manager HSSE Lerry Wenur, Manager Business Support Rinson Gultom, serta tim PGE Area Lahendong.
Dalam pertemuan tersebut, Johni mengatakan pengalaman pengelolaan panas bumi di Lahendong penting dipelajari sebagai referensi bagi Pemerintah Provinsi NTT dalam mengembangkan potensi energi panas bumi.
Ia ingin mengetahui bagaimana pengembangan panas bumi di Lahendong dimulai, manfaat yang dirasakan masyarakat, serta berbagai dampak yang perlu diantisipasi.
Menurut Johni, informasi mengenai pengelolaan panas bumi tidak cukup hanya disampaikan oleh pemerintah maupun perusahaan. Pengalaman masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasi juga perlu didengar dan disampaikan secara terbuka.
Karena itu, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat perlu dilibatkan agar berbagai kekhawatiran dapat dijawab dengan informasi yang utuh.
General Manager PGE Area Lahendong, Yanuaris Dwi Cahyono, menjelaskan bahwa pengembangan panas bumi di Lahendong telah dimulai melalui kegiatan eksplorasi sejak 1982. Setelah melalui proses panjang, operasi komersial baru dimulai pada 2001.
Saat ini, PLTP Lahendong memiliki enam unit pembangkit dengan kapasitas total 120 megawatt (MW). Unit 1 hingga 4 masing-masing berkapasitas 20 MW, demikian pula Unit 5 dan 6.
Selama sekitar 25 tahun beroperasi, Yanuaris menyebut perusahaan tidak mengalami dampak lingkungan yang berarti. Keberlanjutan operasi menjadi perhatian perusahaan melalui pengelolaan teknis dan pemantauan kondisi lingkungan di sekitar wilayah kerja.
Ia juga menjelaskan proses pengeboran sumur panas bumi yang dilakukan secara bertahap dengan memasang pipa pelindung atau casing dan menyemen bagian tertentu pada sumur.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kestabilan sumur sekaligus mencegah gangguan terhadap lapisan air tanah di sekitarnya.
Selain itu, fluida panas bumi yang telah digunakan dalam proses operasi dikembalikan ke dalam bumi melalui sistem injeksi sehingga tidak langsung dibuang ke lingkungan.
Dari aspek sosial, PGE Lahendong juga melibatkan masyarakat sekitar melalui perekrutan tenaga kerja lokal dan program pemberdayaan masyarakat.
Sebelum program dijalankan, perusahaan melakukan pemetaan sosial untuk mengetahui kebutuhan dan kondisi masyarakat. Program pemberdayaan antara lain diarahkan untuk mendukung sektor pertanian dan pengembangan usaha warga.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan produk samping operasi panas bumi yang mengandung unsur hara untuk mendukung kebutuhan pertanian setelah melalui pengolahan dan penelitian.
Sementara itu, Manager HSSE PGE Area Lahendong, Lerry Wenur, menjelaskan bahwa pemantauan lingkungan dilakukan secara berkala, termasuk terhadap kualitas air dan kondisi lingkungan di sekitar wilayah operasi.
Pemantauan dilakukan setiap bulan dengan melibatkan pihak ketiga, seperti perguruan tinggi atau lembaga yang memiliki kompetensi.
Dinas Lingkungan Hidup juga melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi lingkungan sesuai ketentuan.
Lerry mengatakan, area operasi panas bumi Lahendong berada berdampingan dengan lahan pertanian dan perkebunan warga. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian perusahaan dalam pengelolaan lingkungan.
Perusahaan juga membuka kesempatan bagi masyarakat dan pelajar untuk mengenal proses kerja panas bumi melalui kunjungan edukasi maupun kegiatan sosialisasi di sekolah.
Dalam kunjungan tersebut, Johni didampingi Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda NTT Selfi H. Nange, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral NTT Viktor Manek, serta Kepala Badan Penghubung NTT Jakarta Florida Taty Satyawati, ST.
Turut bergabung peneliti dari Purnomo Yusgiantoro Center, yakni Senior Consultant Farida Zed, Koordinator Departemen Penelitian Nadira Asrifa, serta staf peneliti Ahmad Munawir dan Hizkia Posumah.
Kunjungan ke Lahendong merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran Pemprov NTT dengan mengunjungi sejumlah lokasi pengembangan panas bumi di Indonesia.
Melalui pengalaman Lahendong, Pemprov NTT memperoleh gambaran mengenai pentingnya kesiapan teknologi, pengelolaan lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta keterlibatan warga dalam pengembangan energi panas bumi. (*)

