Jadi Pembicara di WBD BI NTT, Grace Famdale Ungkap Perjuangan Raih LPDP demi Kembali Bangun NTT

Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus awardee LPDP, Grace Natalia Hengki Famdale ketika menjadi narasumber di World Book Day Bank Indonesia NTT. Sabtu, (23/5/2026) di Lippo Plaza Kupang.

Kupang, Kanalkita.com – Mahasiswa Program Doktoral Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus awardee LPDP, Grace Natalia Hengki Famdale, membagikan kisah perjuangannya meraih beasiswa LPDP dalam Scholarship Talkshow pada peringatan World Book Day yang diselenggarakan Bank Indonesia Provinsi NTT, pekan lalu. 

Dalam forum tersebut, Grace Famdale mengungkapkan keputusan melanjutkan studi S3 bermula setelah dirinya menyelesaikan program Kenotariatan pada usia 24 tahun. Saat itu, ia belum dapat membuka praktik notaris karena syarat minimal usia untuk disumpah sebagai notaris adalah 27 tahun.

“Nah, salah satu syarat untuk bisa disumpah dan buka praktik Notaris itu minimal usianya 27 tahun. Artinya ada gap waktu atau masa tunggu sekitar tiga tahun. Waktu itu saya berpikir daripada hanya magang dan tunggu tiga tahun, lebih baik dimanfaatkan untuk kuliah S3,” ujarnya, Selasa (26/5/2026). 

Menurut Grace, pendidikan doktoral dipilih bukan hanya untuk mengisi masa tunggu, tetapi juga untuk melatih kemampuan akademik serta memperkuat kapasitas diri agar kelak bisa berkontribusi bagi masyarakat NTT.

Ia mengatakan alasan memilih jalur beasiswa karena biaya pendidikan doktoral cukup besar, sementara daerah masih membutuhkan lebih banyak akademisi dan pakar yang mampu mengawal persoalan sosial maupun hukum masyarakat.

READ:  Dorong Produk Gula Merah Naik Kelas, Tim PKM Undana Gelar Pemberdayaan Masyarakat di Rote Ndao

“LPDP itu bukan cuma soal dibayarin negara sekolah gratis. LPDP punya value yang jelas, yakni disekolahkan untuk kembali dan membangun,” katanya.

Grace menegaskan dirinya ingin membawa ilmu dan gelar doktor yang diperoleh untuk membantu menyelesaikan persoalan hukum di NTT agar masyarakat semakin sadar hukum dan terlindungi.

Selain faktor pembiayaan, Grace mengaku memilih LPDP karena kekuatan jejaring yang dimiliki para awardee dan alumni melalui komunitas Mata Garuda.

“Untuk bikin impact yang besar di daerah, kita tidak bisa jalan sendirian. Kita butuh kolaborasi lintas sektor,” katanya.

Menurut dia, Mata Garuda menjadi wadah yang mempertemukan ribuan anak muda terbaik bangsa dari berbagai bidang, mulai dari akademisi, dokter, pengusaha, pengembang teknologi hingga pembuat kebijakan.

Dalam talkshow tersebut, Grace juga membagikan tantangan terbesar saat mempersiapkan seleksi LPDP, yakni menyusun proposal riset disertasi dan menemukan novelty atau kebaruan penelitian.

READ:  Peringati Hardiknas 2026, 18 Sekolah Ikut Lomba Gerak Jalan Indah di Kupang

“Tantangan paling menguras energi adalah menyusun proposal riset. Menemukan novelty itu tidak mudah. Saya harus membaca puluhan jurnal untuk memastikan ide saya belum pernah diteliti sebelumnya dan punya urgensi tinggi untuk dipecahkan,” katanya.

Meski berhasil lolos LPDP dan diterima di Program Doktoral UNS dalam percobaan pertama, Grace mengaku sempat gagal saat mengikuti ujian Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Saat itu, ia harus menghadapi jadwal ujian yang berdekatan antara seleksi LPDP, tes TOEFL, TPA, wawancara S3 hingga ujian negara PPAT.

Dari tiga ujian itu, Grace lolos LPDP dan lolos S3 UNS. Tapi ia gagal di ujian PPAT. 

Grace mengaku kegagalan tersebut sempat membuatnya sedih, namun akhirnya menjadi pelajaran penting tentang prioritas dan kapasitas diri.

“Kegagalan PPAT itu adalah harga yang harus aku bayar untuk tiket S3 dan LPDP ini,” ujarnya.

Ia juga menekankan strategi paling penting agar dilirik komite LPDP adalah membangun “benang merah” atau koherensi antara identitas diri, masalah yang ingin diselesaikan, solusi yang ditawarkan, dan alasan membutuhkan beasiswa.

READ:  Ketua DPRD Lembata Syafrudin Sira dan Senator AWK Serap Aspirasi Warga Amakaka - Ile Ape

“Komite LPDP itu sudah sangat paham membedakan mana pendaftar yang cuma ingin kuliah gratis dan mana yang benar-benar ingin menyelesaikan masalah nyata,” katanya.

Grace menilai banyak peserta gagal karena terlalu fokus memamerkan pencapaian pribadi tanpa menunjukkan dampak nyata yang ingin dihasilkan melalui pendidikan dan riset mereka.

“Kalau di esai atau proposal kita nggak terlihat ‘Why’ dan ‘Impact’ yang jelas, berkas kita pasti gampang tersingkir,” kata dia. 

Ia juga memberi motivasi kepada peserta yang merasa kurang percaya diri atau minim pengalaman. Grace berharap, memaksimalkan semua potensi yang dimiliki dan paling penting adalah dampak dan konsistensi. 

Grace Famdale menyampaikan pesan penyemangat bagi generasi muda yang sedang berjuang mengejar pendidikan dan beasiswa.

“Beasiswa itu bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling gigih dan paling jelas tujuannya. Build your own future dream, because if you don’t, no one else will do it for you. Semangat!” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *