Kalabahi, kanalkita.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk membangkitkan kembali kejayaan Kenari Alor sebagai komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat perekonomian daerah.
Komitmen tersebut disampaikan saat menghadiri Talkshow Membangun Inclusive Markets Kenari Alor yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) di Aula Gereja Pola Tribuana, Kalabahi, Kabupaten Alor, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Alor Melkisedek Bely, National Program Manager INCLUSION WVI Vinsensius Suwandi, Kepala BRIN Perwakilan NTT Prof. Dr. Evert Julianes Hosang, perwakilan Kementerian Hukum Provinsi NTT Dra. Dince Ellensia Bule Lado, M.Si., Ketua MPIG Daniel Laure, pelaku usaha, serta jajaran perangkat daerah Provinsi NTT dan Kabupaten Alor.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur menyebut talkshow ini sebagai momentum penting untuk membangkitkan kembali salah satu kekayaan hayati khas Alor yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Ini merupakan awal kebangkitan Kenari Alor. Saat ini banyak pohon kenari yang telah ditebang, sehingga momentum ini harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali menanam pohon kenari di lahan-lahan yang masih tersedia. Jika kita terlambat, kita berisiko kehilangan salah satu komoditas unggulan daerah,” tegas Johni Asadoma.
Menurutnya, upaya pelestarian tanaman endemik harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan agar tidak mengalami nasib serupa dengan sejumlah komoditas khas NTT yang kini semakin langka, seperti Apel Soe dan Cendana.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Provinsi NTT berencana menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melakukan penelitian terhadap penyebab menurunnya populasi Apel Soe. Hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi referensi penting dalam menjaga keberlanjutan berbagai komoditas unggulan daerah.
Wakil Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada Wahana Visi Indonesia yang selama beberapa tahun terakhir aktif mendampingi masyarakat dalam mengembangkan pasar yang inklusif bagi produk-produk lokal.
Sementara itu, National Program Manager INCLUSION WVI, Vinsensius Suwandi, menjelaskan bahwa program INCLUSION yang didukung Pemerintah Australia saat ini berjalan di NTT, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah hingga tahun 2027.
Program tersebut berfokus pada peningkatan ekonomi keluarga dan perluasan akses pasar bagi petani melalui pengembangan komoditas unggulan.
Di NTT, program tersebut mencakup pengembangan padi, vanili Alor, kenari Alor, dan kacang Sumba. Khusus Kenari Alor, pendampingan pasar telah dilakukan sejak 2023 melalui pendekatan konsorsium dan dilanjutkan dengan pembentukan kelompok pengolah kenari untuk memperluas pemasaran produk hingga ke luar daerah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, Melkisedek Bely, menambahkan bahwa Alor saat ini menjadi kabupaten dengan jumlah produk Indikasi Geografis (IG) terbanyak di NTT, meliputi Tenun Ikat Alor, Songket Alor, Vanili Alor, dan Kenari Alor.
“Pemerintah Kabupaten Alor berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan Kenari Alor, termasuk melalui penyusunan regulasi daerah yang dapat memperkuat tata kelola dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain mendorong pengembangan kenari, Wakil Gubernur juga mengajak masyarakat untuk mengoptimalkan potensi berbagai tanaman endemik lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi, termasuk mangga kelapa yang menjadi salah satu kekhasan Kabupaten Alor.
Sebagai tindak lanjut hasil diskusi, sejumlah langkah strategis akan dilakukan, di antaranya pelatihan pengolahan vanili dan pemanfaatan tanaman endemik agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, serta pemetaan wilayah potensial untuk pengembangan komoditas unggulan yang akan disertai bantuan bibit dan pendampingan berkelanjutan.
Johni Asadoma optimistis, apabila kekayaan sumber daya alam Alor dikelola secara profesional dan berkelanjutan, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh petani dan pelaku usaha, tetapi juga akan berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Alor memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengelolanya dengan baik, menjaga keberlanjutannya, serta memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas,” pungkasnya.
Melalui penguatan pasar, pelestarian tanaman endemik, dan peningkatan kapasitas masyarakat, Kenari Alor diharapkan mampu menjadi ikon ekonomi baru yang mengangkat kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah di tingkat nasional maupun internasional. (*)

