Kupang, kanalkita.com – Dua puluh tahun perjalanan Desa Letbaun, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, dirayakan dengan sederhana.
Di tengah suasana duka akibat bencana gempa yang melanda sejumlah wilayah di Flores, masyarakat Letbaun tetap menjaga sebuah tradisi yang telah menjadi bagian dari kebersamaan mereka. Tradisi itu hadir melalui Festival Uikiban.
Memasuki penyelenggaraan kelima, Festival Lomba Dayung dan Mancing kembali digelar di Embung Uikiban. Meski tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, suasana kebersamaan tetap terasa. Puluhan peserta dari sejumlah desa di Pulau Semau ikut mengambil bagian dalam perlombaan.
Bagi masyarakat Letbaun, festival ini bukan hanya tentang perlombaan. Embung Uikiban menjadi tempat warga bertemu, berbagi cerita dan menikmati kebersamaan.
Kepala Desa Letbaun, Carlens Horison Bising, mengatakan Festival Uikiban merupakan kegiatan tahunan yang terus dipertahankan pemerintah desa bersama masyarakat.
Namun, tahun ini pelaksanaannya sengaja dibuat lebih sederhana. Keputusan tersebut tidak terlepas dari kondisi masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sedang berduka akibat bencana gempa Flores.
“Penyelenggaraan kali ini tidak digelar secara meriah seperti tahun-tahun sebelumnya karena berbagai hal, termasuk menghormati korban bencana Flores,” kata Carlens.
Meski digelar sederhana, antusiasme masyarakat tidak surut. Carlens mengapresiasi seluruh masyarakat dan peserta yang tetap hadir dan mengikuti Festival V tersebut.
Menurutnya, kehadiran peserta menunjukkan bahwa kegiatan yang dimulai sejak 2022 itu telah memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Bahkan, hingga Festival V digelar, masih terdapat peserta yang setia mengikuti perlombaan sejak festival pertama.
“Hingga festival ke V, masih ada peserta yang setia dengan kami sejak 2022. Bahkan jumlah peserta mancing terus bertambah,” ujarnya.
Bagi Carlens, keberlangsungan festival bukan semata-mata soal kompetisi dan perebutan hadiah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Semau.
Embung Uikiban menjadi ruang perjumpaan. Di sana, masyarakat membangun kebersamaan sekaligus menciptakan pengalaman yang terus dikenang dari tahun ke tahun.
“Masyarakat Semau membutuhkan hiburan untuk itu perlu digelar event seperti ini yang akan berdampak kepada ekonomi masyarakat,” sebutnya.
Carlens menyebut, banyak pengalaman telah lahir dari kegiatan yang dilaksanakan di Embung Uikiban. Karena itu, pemerintah desa berharap masyarakat terus mendukung dan berpartisipasi dalam festival pada tahun-tahun mendatang.
Ia juga memberikan apresiasi kepada panitia yang telah bekerja mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan. Menurutnya, keberhasilan festival merupakan hasil kerja bersama pemerintah desa, panitia dan masyarakat.
“Setiap tahun pasti ada kejutan. Kami terus mengevaluasi pelaksanaan lomba. Tahun ini panitia sudah bekerja dan mampu mereplikasikan kegiatan dengan baik. Ini karena kerja keras, kerja tulus, kerja dengan hati yang diberikan panitia dan masyarakat,” ungkapnya.
Meriah dengan Cara Sederhana
Festival tahun ini mempertandingkan dua jenis perlombaan, yakni dayung perahu dan mancing. Lomba dayung diikuti tujuh peserta. Sementara lomba mancing dibagi dalam kategori anak-anak dan dewasa.
Untuk kategori anak-anak, peserta diberikan waktu selama satu jam untuk memancing. Sementara peserta dewasa memiliki waktu 45 menit untuk mendapatkan hasil tangkapan terbaik.
Pada kategori mancing anak-anak, Gio Buifena keluar sebagai juara pertama, disusul Gren Hunin di posisi kedua dan Darius Hitis di posisi ketiga. Sementara kategori mancing dewasa dimenangkan Roni Buy Mestuni. Posisi kedua diraih Obetnego Laikopan, sedangkan Imanuel Ribu menempati posisi ketiga.
Persaingan juga berlangsung pada lomba dayung perahu. Andi Edon bersama pasangan berhasil keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua ditempati Nelson Tule bersama pasangan, disusul Deki Matasina bersama pasangan di urutan ketiga.
Selanjutnya, Erens Tihu bersama pasangan menempati posisi keempat, sementara Putra Leddo berada di posisi kelima. Festival Uikiban tahun ini mungkin berlangsung lebih sederhana. Namun, kesederhanaan itu justru memperlihatkan makna lain dari sebuah tradisi.
Di tengah suasana duka, masyarakat Letbaun tetap memilih berkumpul, menjaga tradisi dan merawat kebersamaan. Dari Embung Uikiban, semangat itu terus mengalir, menjadi bagian dari perjalanan Desa Letbaun yang kini telah memasuki usia 20 tahun. (*)

