Sanur, kanalkita.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, resmi meluncurkan NTT (Nature Transforms Tomorrow) Branding dalam ajang The 2nd Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) 2026 di Ballroom Wantilan, Prama Sanur Beach Bali, Denpasar, Sabtu (17/10/2026).
Peluncuran ini menjadi langkah strategis Pemerintah Provinsi NTT untuk memperkuat identitas pariwisata daerah sekaligus memperluas promosi destinasi wisata NTT ke pasar nasional dan internasional.
Namun, bagi Johni, penguatan branding pariwisata tidak boleh berhenti pada logo, slogan, atau promosi. Pengembangan sektor ini harus memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, pengrajin tenun, pengelola homestay, pemandu wisata hingga petani dan nelayan.
“NTT memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Dari bentang alam kepulauan, pantai, laut, dan perbukitan, tenun tradisional yang merupakan tenun terbaik, rumah adat, kuliner lokal, serta keramahan masyarakat, semuanya merupakan kekuatan yang harus kita perkenalkan kepada dunia,” ungkap Johni.
Menurutnya, NTT memiliki lebih dari 1.600 daya tarik wisata, lebih dari 300 destinasi bahari, dan 534 desa wisata yang tersebar di 22 kabupaten/kota.
Labuan Bajo yang telah ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas menjadi salah satu pintu masuk penting bagi pengembangan pariwisata NTT. Meski demikian, potensi pariwisata daerah ini tidak hanya bertumpu pada Labuan Bajo dan Pulau Komodo.
Johni menyebut sejumlah destinasi lain yang memiliki daya tarik kuat, seperti Nihiwatu di Sumba Barat, wisata bahari Alor, ombak Rote, Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai, serta Danau Kelimutu di Kabupaten Ende dengan fenomena tiga warna yang khas.
“Selain Labuan Bajo dan Komodo, NTT memiliki Nihiwatu di Sumba Barat – Pulau Sumba yang telah diakui sebagai salah satu resort terbaik di dunia oleh majalah ternama asal Amerika Serikat. Kami juga memiliki Alor dengan keindahan taman bawah laut dan wisata baharinya, Rote dengan ombaknya yang konon merupakan ke-3 terbaik di dunia, kampung adat Wae Rebo di Manggarai yang sangat eksotis, hingga Danau Kelimutu di Ende – Flores yang unik dengan fenomena tiga warnanya,” ujar Johni.
Kekayaan tersebut juga tercermin dalam tradisi tenun ikat yang memiliki motif, cerita, dan identitas berbeda di setiap daerah, mulai dari Timor, Sumba, Flores, Alor, Rote, Sabu hingga Lembata.
Dari sisi pendukung, pada 2026 NTT tercatat memiliki 861 fasilitas akomodasi dan lebih dari 2.500 rumah makan. Empat desa wisata di NTT juga masuk dalam 15 besar Lomba Desa Wisata Nusantara 2025, sedangkan Kampung Prai Ijing di Kabupaten Sumba Barat meraih ASEAN Sustainable Tourism Awards 2026.
“Capaian ini menunjukkan bahwa pariwisata NTT tidak hanya memiliki kekayaan alam dan budaya, tetapi juga didukung oleh kesiapan pelayanan, partisipasi masyarakat, serta pengakuan di tingkat nasional dan internasional,” ujarnya.
Pariwisata Harus Berdampak bagi Masyarakat
Johni menegaskan, sektor pariwisata memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Pada 2025, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT tercatat sebesar 7,71 persen.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT ingin memastikan pertumbuhan pariwisata berjalan seiring dengan penciptaan lapangan kerja, pengembangan UMKM, perluasan peluang usaha, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan Dasa Cita ke-3 Pemerintah Provinsi NTT, yakni “Wisata NTT Penggerak Ekonomi Lokal”.
“Keberhasilan pariwisata NTT tidak hanya diukur dari seberapa banyak orang datang berkunjung, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh masyarakat NTT,” jelas Johni.
Ia mengatakan, kemajuan pariwisata dapat menciptakan dampak berantai bagi berbagai sektor usaha, termasuk perhotelan, restoran, toko suvenir, transportasi, jasa pemandu wisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah.
“Kalau pariwisata maju, hotel-hotel akan mendapatkan manfaat, restoran berkembang, toko-toko suvenir bergerak, transportasi tumbuh, termasuk pemandu wisata dan berbagai sektor lainnya. Banyak sekali pihak yang bisa ikut mengambil bagian dalam ekosistem pariwisata untuk membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Untuk itu, NTT Branding harus didukung strategi pemasaran yang terarah dan berkelanjutan. Pemerintah perlu memperkuat promosi digital, membangun narasi pariwisata yang kuat, serta mengintegrasikan destinasi dengan produk lokal, tenun ikat, kuliner, dan potensi ekonomi kreatif masyarakat.
Menurut Johni, identitas pariwisata juga harus tercermin dalam pengalaman wisatawan, kualitas pelayanan, kebersihan destinasi, keramahan masyarakat, keamanan, serta komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
SDM dan Konektivitas Jadi Perhatian
Selain promosi, Johni menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur pendukung pariwisata.
“Tentu kita juga harus menyiapkan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi di bidang pariwisata. Potensi sebesar apa pun, kalau SDM-nya tidak bagus, tentu tidak bisa dikelola secara maksimal,” tegasnya.
Peningkatan kompetensi tersebut, menurut Johni, perlu didukung pendidikan vokasi, termasuk sekolah menengah kejuruan (SMK) yang memiliki jurusan pariwisata. Dengan demikian, NTT dapat menyiapkan tenaga kerja profesional dan terampil yang mampu memberikan pelayanan berkualitas kepada wisatawan.
Pada sisi infrastruktur, pemerintah juga berupaya meningkatkan konektivitas darat, laut, dan udara untuk mempermudah akses menuju destinasi wisata.
“Kita berusaha meningkatkan konektivitas, baik darat, udara, maupun laut. Kita membuka beberapa rute penerbangan baru, meminta pemerintah pusat menambah layanan penyeberangan feri dan kapal, serta terus meningkatkan ruas-ruas jalan yang menjadi pusat pergerakan dan mobilitas pariwisata,” ujarnya.
Akses transportasi yang semakin baik diharapkan dapat memperlancar mobilitas wisatawan dan masyarakat sekaligus mendukung distribusi barang dan jasa yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata.
Belajar dari Bali dan Memperkuat Strategi Pemasaran
Dalam kegiatan yang sama, Founder & Chair of MCorp, Hermawan Kartajaya, menekankan pentingnya integrasi tiga komponen pemasaran pariwisata, yakni brand management, product management, dan customer management.
Hermawan juga mengapresiasi perkembangan pariwisata Indonesia di tingkat global dan mengajak daerah-daerah untuk belajar dari Bali dalam mengemas serta mempromosikan destinasi hingga mampu menjangkau pasar internasional.
Gubernur Bali, I Wayan Koster, turut membagikan pengalaman Bali dalam membangun pariwisata berkelanjutan. Ia menilai komitmen menjaga integritas desa adat menjadi salah satu kunci pelestarian budaya Bali di tengah perkembangan industri pariwisata.
“Desa adat di Bali menjadi wadah utama dalam menjaga nilai-nilai budaya, adat istiadat, serta kearifan lokal. Keberadaan lembaga desa adat inilah yang membuat kebudayaan Bali tetap eksis, lestari, dan mampu berkembang menyesuaikan dengan tuntutan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” jelas Koster.
Sementara itu, Senator asal Sumatera Barat, Irman Gusman, menggarisbawahi tiga pilar penting untuk memperkuat ketahanan pariwisata daerah, yakni wellness tourism atau wisata kebugaran, culinary tourism atau wisata kuliner, serta adventure tourism atau wisata petualangan.
Ia juga mengingatkan pentingnya ketersediaan air bersih dan pengelolaan sampah sebagai bagian mendasar dalam menjaga kebersihan, kenyamanan, dan keberlanjutan destinasi wisata.
Melalui peluncuran NTT Branding di ITMW 2026, Pemerintah Provinsi NTT berharap kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan semakin kuat. (*)

