Seruan Damai Mantan Ketua PMKRI Kupang, Ajak Pemuda Katolik Maafkan Jusuf Kalla

Mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang, Agustinus Budi Utomo Gilo Roma atau yang akrab disapa Bedi Roma.

KUPANG — Mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang, Agustinus Budi Utomo Gilo Roma atau yang akrab disapa Bedi Roma, mengajak seluruh orang muda Katolik untuk mengambil sikap bijak dengan memaafkan mantan Wapres RI, Jusuf Kalla, menyusul polemik yang berkembang.

Menurut Bedi Roma, langkah memaafkan merupakan jalan damai yang sejalan dengan ajaran Yesus Kristus, sekaligus dapat meredam potensi kegaduhan yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Kita perlu memaafkan beliau. Hanya dengan memaafkan, seperti yang diajarkan Yesus Kristus, kita bisa menjaga kedamaian. Melaporkan justru berpotensi menimbulkan kegaduhan baru,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

READ:  Wagub NTT Johni Asadoma Soroti Ancaman Kesehatan Mental di Era Digital dalam Diskusi GEKIRA

Ia menilai, pernyataan yang disampaikan Jusuf Kalla kemungkinan terjadi karena belum sepenuhnya memahami ajaran Kristen dan Katolik, khususnya terkait konsep mati syahid.

Dalam ajaran Kristiani, kata dia, nilai utama yang ditekankan adalah cinta kasih, pengampunan, dan hidup damai.

“Kristen atau Katolik tidak menjalankan ajaran kekerasan. Yang ditekankan adalah cinta kasih dan memaafkan. Itu yang seharusnya menjadi sikap kita,” katanya.

READ:  Kupang Bersiap Sambut Ribuan Peserta Paskah Nasional Gekira 2026

Bedi Roma juga mempertanyakan urgensi langkah hukum terhadap persoalan tersebut.

Mantan Pengurus Pusat PMKRI itu menyebut, dalam situasi bangsa yang dinilainya sedang tidak kondusif dan sarat dinamika, respons berlebihan justru tidak produktif.

“Beliau mungkin khilaf. Tapi apa untungnya jika dilaporkan? Apakah itu akan menyelesaikan masalah? Negara sedang penuh dinamika, jadi tidak perlu merespons secara berlebihan,” katanya.

READ:  14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

Meski demikian, Bedi Roma menegaskan, dirinya tidak mencampuri keputusan organisasi lain. Ia menghormati jika ada pihak yang memilih jalur hukum, sembari menekankan bahwa sikap yang ia sampaikan merupakan pandangan pribadi sebagai bagian dari umat Katolik dan mantan pimpinan organisasi.

“Saya tidak mengintervensi organisasi mana pun. Jika ada yang memilih melapor, itu hak dan keputusan masing-masing. Saya hanya menyampaikan bahwa memaafkan adalah jalan terbaik menurut ajaran yang kita imani,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *