Sumba Barat Daya, kanalkita.com – Kegelisahan masih menyelimuti warga Desa Waikadada, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), setelah gempa bumi pada 4 Oktober 2026 merusak rumah-rumah mereka. Lebih dari sepekan berlalu, sebagian warga masih kesulitan mendapatkan tempat tinggal yang aman.
Di tengah kondisi itu, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma menemui warga pada Kamis (15/10/2026) malam.
Kedatangannya bersama Bupati SBD Ratu Wulla bukan hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga mendengarkan langsung keluhan masyarakat yang masih berjuang menghadapi dampak gempa.
Mantan Kapolda NTT itu melihat kondisi rumah warga yang sebagian konstruksinya roboh. Bersama rombongan, Johni juga menyerahkan bantuan berupa beras dan tenda sebelum berdialog dengan warga terdampak.
Dalam pertemuan tersebut, Dominggus Pandi, salah seorang warga Desa Waikadada, menceritakan kesulitan yang dialami keluarganya sejak gempa melanda wilayah itu. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung kini tidak lagi bisa ditempati dengan aman.
“Jujur, Bapak, selama satu minggu lebih ini kami hidup dalam kegelisahan. Rumah kami sudah roboh semua, bahkan tempat tinggal pun kami harus mencari. Kami terpaksa menumpang di rumah tetangga yang masih aman atau tinggal di tempat seadanya,” kata Dominggus.
Bagi Dominggus dan warga lainnya, persoalan yang mendesak bukan hanya membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga mendapatkan tempat berlindung sementara agar bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang.
Ia mengaku bersyukur atas kehadiran Johni Asadoma bersama Bupati SBD Ratu Wulla. Bantuan yang diberikan setidaknya dapat meringankan beban warga yang sedang menghadapi masa sulit.
“Mungkin belum bisa langsung membangun rumah baru, tetapi kami sangat membutuhkan tempat tinggal sementara,” ujarnya.
Dominggus menjelaskan, kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah, tetapi juga fasilitas sanitasi seperti toilet. Kondisi itu semakin menyulitkan warga, terutama ketika malam tiba dan mereka membutuhkan tempat yang aman untuk beristirahat.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menyediakan tempat pengungsian sementara agar warga memiliki tempat berteduh sambil menunggu proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah mereka.
“Dengan begitu, kami bisa sedikit tenang dan memikirkan langkah selanjutnya untuk memperbaiki kehidupan kami, terutama membangun kembali rumah yang kami tempati,” katanya.
Mendengar keluhan tersebut, Johni Asadoma mengatakan, aspirasi warga akan disampaikan kepada pemerintah pusat. Pemerintah Provinsi NTT juga akan berkoordinasi untuk merumuskan langkah penanganan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
“Nanti kita akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat supaya bisa mendapatkan tenda,” kata Johni.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi NTT telah menyalurkan bantuan berupa tenda, beras, hingga tandon air bagi masyarakat terdampak. Pemerintah juga akan mengupayakan agar warga memperoleh hunian sementara sambil menunggu pembangunan hunian tetap.
Di hadapan warga, Johni turut memberikan semangat agar masyarakat tidak larut dalam ketakutan dan keputusasaan. Ia mengingatkan warga agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, melakukan evakuasi mandiri, serta mencari lokasi aman apabila guncangan kembali terjadi.
Selain kebutuhan tempat tinggal sementara, Johni menekankan pentingnya pendataan kerusakan rumah secara terperinci, termasuk mendokumentasikan kondisi bangunan melalui foto. Data tersebut akan menjadi bahan laporan kepada pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan dan pembangunan kembali rumah warga.
“Data ini perlu, foto rumah, supaya bisa cepat kita cari bantuan. Kita lapor ke Pemerintah Pusat supaya pembangunan rumah untuk masyarakat itu segera direalisasikan pada tempat yang terdampak parah,” kata Johni.
Kepala Desa Waikadada, Soleman Dange Ate, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa terdapat 19 rumah warga yang mengalami kerusakan berat.
Di tengah rumah yang rusak dan ketidakpastian tempat tinggal, warga Waikadada kini berharap bantuan dan koordinasi pemerintah dapat segera menghadirkan tempat berlindung yang layak.
Bagi mereka, hunian sementara menjadi kebutuhan mendesak agar keluarga dapat kembali beristirahat dengan aman sembari menata kehidupan setelah gempa. (*)

