KUPANG – Langkahnya tegap saat memasuki aula wisuda Universitas Nusa Cendana (Undana), Kamis (26/2/2026) pagi.
Namun ketika namanya dipanggil sebagai doktor baru, sorot mata Johni Asadoma tak lagi sekeras saat ia berdiri di atas ring tinju puluhan tahun lalu. Ada getar haru yang tak bisa disembunyikan.
Hari ini, legenda tinju amatir Indonesia, purnawirawan perwira tinggi Polri, sekaligus Wakil Gubernur NTT periode 2025–2030 itu resmi menyandang gelar doktor. Sebuah babak baru dalam perjalanan hidup yang penuh pertarungan.
“Semua ini karena disiplin dan pertolongan Tuhan,” ucapnya singkat, menahan emosi.
Anak Timur yang Menantang Dunia
Lahir 8 Januari 1966 di Denpasar dari ayah asal Alor, Daniel Asadoma, dan ibu berdarah Rote, Christina Filipina Yacomina Amalo, Johni tumbuh sebagai anak keenam dari delapan bersaudara.
Ia besar dengan mimpi sederhana, tetapi tekad luar biasa. Tinju menjadi jalan hidupnya. Tahun 1983, ia mengharumkan nama bangsa dengan meraih emas kelas layang di SEA Games 1983.
Setahun kemudian, ia tampil di Olimpiade Musim Panas 1984, membawa Merah Putih ke panggung dunia. Dari Kupang, ia membuktikan bahwa anak daerah bisa berdiri sejajar dengan petinju dunia.
Dari Sarung Tinju ke Seragam Jenderal
Usai gantung sarung tinju, Johni memilih jalan pengabdian. Lulus Akademi Kepolisian tahun 1989, ia meniti karier di Korps Brimob hingga menyandang pangkat Inspektur Jenderal Polisi.
Ia pernah menjabat Kapolda NTT dan menutup kariernya sebagai Analis Kebijakan Utama Bidang Misinter Divhubinter Polri. Karakter petarung yang dibentuk di ring membantunya menghadapi kerasnya medan tugas.
Ketegasan, keberanian, dan daya tahan mental menjadi modal utama. Kini, ia duduk sebagai Wakil Gubernur (Wagub) NTT mendampingi Emanuel Melkiades Laka Lena. Namun baginya, jabatan hanyalah amanah. Pendidikan adalah investasi jangka panjang.
Wisuda yang Penuh Makna
Di tengah kesibukan sebagai pemimpin daerah, Johni memilih kembali ke bangku kuliah hingga meraih gelar doktor di Undana. Bagi banyak orang, ini mungkin pencapaian biasa.
Namun bagi Johni, ini adalah pertarungan sunyi—melawan waktu, lelah, dan tanggung jawab besar.Di barisan tamu, sang istri, Vera Christina br. Sirait, M.Sc., tersenyum bangga.
Lulusan Louisiana State University itu selama ini menjadi penopang setia. Ia meninggalkan karier profesionalnya demi mendampingi suami.
“Istri saya adalah kekuatan doa saya,” kata Johni. Putrinya, Veronica Gabriela Margareth Asadoma, alumnus Universitas Indonesia dan Deakin University, serta putranya Daniel Benjamin Asadoma, lulusan University of New South Wales, ikut menyaksikan momen bersejarah itu.
Pelukan keluarga usai prosesi wisuda menjadi adegan paling menyentuh. Seorang ayah yang pernah bertarung di Olimpiade kini menunjukkan bahwa belajar adalah perjuangan tanpa akhir.
Pesan Seorang Petarung
Johni percaya tidak ada jalan pintas menuju puncak. Disiplin, kerja keras, keberanian, memperluas relasi, serta tetap rendah hati adalah prinsip yang selalu ia pegang.
“Menghadapi tantangan tanpa rasa takut. Jangan pernah merasa minder. Dan selalu tempatkan Tuhan di posisi pertama,” pesannya.
Dari ring tinju, medan tugas kepolisian, kursi Wakil Gubernur, hingga toga doktor—kisah Johni Asadoma adalah cerita tentang konsistensi dan iman.
Tentang anak Timur yang tak berhenti belajar, tak lelah berjuang, dan terus menyalakan harapan bagi generasi NTT. (*)

