Daerah  

Dialog Bersama Tokoh di Alor, Wagub Johni Asadoma Gaungkan Deklarasi Damai dan Diajak Cegah Tawuran Pelajar

Wagub NTT Johni Asadoma ketika berdialog bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, serta kepala SMP, SMA, dan SMK se-Kecamatan Teluk Mutiara yang berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Teluk Mutiara, Rabu (3/6/2026).

Kalabahi, Kanalkita.com – Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengajak seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Alor untuk bersatu membangun gerakan bersama menghentikan tawuran pelajar dan kenakalan remaja melalui deklarasi damai yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat hingga tingkat RT dan RW.

Ajakan tersebut disampaikan saat memimpin dialog bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, serta kepala SMP, SMA, dan SMK se-Kecamatan Teluk Mutiara yang berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Teluk Mutiara, Rabu (3/6/2026). 

Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan dialogis dengan fokus membahas maraknya tawuran dan berbagai bentuk kenakalan remaja yang melibatkan pelajar dan anak-anak di bawah umur yang belakangan meresahkan masyarakat Alor.

Berbagai tokoh yang hadir menyampaikan pandangan dan solusi terkait persoalan tersebut. Tokoh masyarakat Agustinus Asamal menekankan pentingnya penanganan yang tepat sasaran dengan mengidentifikasi pelaku, akar persoalan, serta melibatkan seluruh pihak terkait dalam penyelesaiannya.

Sementara itu, tokoh agama Lukman Sallo meminta pemerintah dan unsur Forkopimda memperkuat pembinaan hingga ke tingkat desa dan kelurahan serta memperkuat regulasi guna mencegah konflik serupa terus berulang.

Dari kalangan pendidikan, sejumlah kepala sekolah menyoroti perlunya penegakan aturan yang lebih tegas. Kepala SMP PGRI Kalabahi, Degusti Malua, meminta optimalisasi peran aparat keamanan di lapangan. 

READ:  Proyek Sentra Industri Garam Rote Ndao Gerakkan Ekonomi, Tokoh Adat Imbau Warga Jaga Situasi Kondusif

Kepala SMA Kristen 1 Kalabahi, Santo Waang, mengungkapkan bahwa pihak sekolah pernah menemukan siswa yang membawa anak panah ke lingkungan sekolah dan meminta adanya tindakan tegas agar menimbulkan efek jera.

Kepala SMK Negeri 1 Kalabahi, Ida Letta Laure, mengusulkan pengaktifan kembali sistem keamanan lingkungan melalui siskamling, penerapan jam wajib belajar bagi anak-anak, serta pelibatan tokoh masyarakat dalam pembinaan generasi muda. 

Senada dengan itu, Kepala SMA Kristen 2 Kalabahi, Yafet Jasibani, mendorong penegakan hukum yang tuntas disertai pembinaan serta penerapan jam malam bagi anak-anak dan remaja.

Pendeta Mikhael Karbeka dari Gereja Imanuel Molla menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari keluarga dan sekolah melalui pendidikan karakter yang berkelanjutan. Ia juga mengusulkan penguatan ruang-ruang budaya dengan melibatkan tokoh adat dan tokoh kerajaan untuk menanamkan kembali nilai-nilai etika dan penghormatan kepada sesama.

Kepala Desa Air Kenari, Muhammad Usman, mengungkapkan bahwa banyak anak yang terlibat tawuran berasal dari keluarga yang kurang memberikan pengawasan dan perhatian. 

Ia juga menyoroti mulai berkurangnya pengaruh tokoh masyarakat dan tokoh agama di sejumlah wilayah.

READ:  Wagub Johni Asadoma Kembali Temui Sesko Infrastruktur, Pempus Siap Dukung Bangun Jalan dan Jembatan di NTT

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Kalabahi, Nontji Manesi, menilai lemahnya pengawasan orang tua menjadi salah satu faktor utama penyebab kenakalan remaja. Ia mengusulkan penertiban anak-anak yang berkeliaran di luar rumah pada jam belajar serta pendataan yang lebih baik oleh RT dan RW.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo menyoroti pengaruh media sosial dan grup percakapan digital yang sering menjadi sarana saling ejek dan provokasi antar kelompok. 

Sedangkan Kapolres Alor AKBP Nur Azhari menjelaskan bahwa sebagian besar kasus tawuran bermula dari konflik di media sosial yang kemudian berkembang menjadi kekerasan fisik. Konsumsi minuman keras juga disebut sebagai salah satu faktor pemicu utama.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Johni Asadoma menyampaikan apresiasi atas kepedulian seluruh peserta dialog. Menurutnya, menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya tugas pemerintah dan aparat keamanan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

“Semua masukan yang disampaikan hari ini sangat baik karena berasal dari pihak-pihak yang melihat, mendengar, dan mengalami langsung persoalan di lapangan. Ini menjadi modal penting untuk merumuskan langkah yang tepat,” ujar Johni.

READ:  Saksikan Pasola di Lamboya Barat Pulau Sumba, Wagub Johni Asadoma: Warisan Leluhur yang Harus Mendunia

Ia menegaskan bahwa setiap pelanggaran hukum harus diproses secara tegas sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, langkah pencegahan melalui pendidikan karakter, pembinaan moral, kegiatan keagamaan, dan pemberdayaan generasi muda juga harus diperkuat.

Mantan Kapolda NTT itu mengingatkan bahwa anggaran pemerintah seharusnya lebih banyak diarahkan untuk kegiatan produktif yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat, seperti program kepemudaan, olahraga, seni, budaya, dan kewirausahaan.

Di akhir pertemuan, Johni meminta seluruh masukan dan rekomendasi yang muncul dalam dialog tersebut dirumuskan menjadi konsep deklarasi bersama yang melibatkan pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, lurah, kepala desa, RT, RW hingga organisasi kemasyarakatan.

Menurutnya, keterlibatan seluruh komponen masyarakat merupakan kunci utama untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghentikan tawuran dan mewujudkan Alor yang damai, aman, tertib, dan harmonis.

“Semua masukan ini akan kita rangkum menjadi konsep yang baik untuk kemudian dideklarasikan bersama seluruh elemen masyarakat Kabupaten Alor. Kita ingin membangun gerakan bersama agar Alor menjadi daerah yang damai, aman, dan menjadi tempat yang baik bagi masa depan anak-anak kita,” pungkasnya. (*) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *