Daerah  

Ketua TIDAR NTT Antar Langsung Bantuan ke Pelosok Flores yang Sulit Dijangkau

Ketua Tunas Indonesia Raya (TIDAR) NTT, Benyamin Deaniel Asadoma, turun langsung menyusuri sejumlah pelosok Pulau Flores untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) lalu.

Kupang, kanalkita.com – Ketua Tunas Indonesia Raya (TIDAR) NTT, Benyamin Deaniel Asadoma, turun langsung menyusuri sejumlah pelosok Pulau Flores untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) lalu.

Dean Asadoma, yang merupakan putra Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, tidak hanya mengantarkan bantuan ke lokasi pengungsian yang mudah dijangkau. Ia bersama timnya menembus sejumlah wilayah terpencil yang belum tersentuh bantuan akibat akses jalan rusak dan tertimbun material longsor.

“Saya turun dan menyusuri setiap lokasi yang sulit dijangkau untuk antar bantuan kemanusiaan,” ujar Dean, Senin (25/8/2026) dalam keterangannya. 

Dean mengatakan, setelah gempa terjadi, dirinya langsung melakukan pengecekan terhadap jumlah warga terdampak dan wilayah yang mengalami kerusakan parah. Pendataan tersebut dilakukan agar bantuan yang disalurkan benar-benar tepat sasaran.

Ia kemudian mulai mengirim bantuan ke sejumlah pelosok yang belum tersentuh bantuan. Wilayah pertama yang dituju adalah Pulau Palue, Kabupaten Sikka, pada Minggu (16/8/2026), yang menjadi salah satu daerah terdampak parah akibat gempa.

READ:  Tokoh Adat dan Pemdes Palakahembi Kompak Dukung Tambak Udang, Sumba Timur Siap Jadi Sentra Ekonomi Pesisir

Distribusi bantuan selanjutnya diperluas ke sejumlah wilayah di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo hingga Ende.

Bantuan tersebut disalurkan melalui Yayasan D’Asadoma dengan membawa berbagai kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari sembako, selimut, pakaian hingga kebutuhan lainnya.

Tak hanya mendistribusikan bantuan, Dean bersama tim juga melakukan pendataan jumlah pengungsi dan kebutuhan dasar mereka. Data tersebut kemudian disampaikan kepada BNPB agar penyaluran bantuan berikutnya dapat lebih tepat sasaran.

Tembus Jalan Rusak dan Longsor

Perjalanan menuju sejumlah lokasi terdampak tidak selalu mudah. Dean dan tim harus menghadapi medan ekstrem, jalan rusak serta material longsor yang menutup akses akibat gempa dan gempa susulan.

Kondisi tersebut dirasakan saat mereka menuju Kelurahan Pota dan sejumlah wilayah pesisir Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.

“Ada beberapa jalur yang sulit dilalui kendaraan. Ada jalan yang tertimbun batu besar, ditambah gempa susulan yang terus terjadi dan mengakibatkan jalan yang awalnya hanya sedikit tertimbun, kembali tertimbun material longsor susulan,” tutur Dean.

READ:  Ketua DPD PAN Sikka Bernadus Benhard Kelan Dampingi Menko Pangan Zulkifli Hasan Temui Warga Terdampak Gempa

Selain kerusakan infrastruktur, kendala lainnya adalah jaringan telekomunikasi seluler yang sulit di sejumlah wilayah. Kondisi itu membuat komunikasi dan pelaporan data pengungsi kepada pemerintah menjadi terhambat.

Akibatnya, distribusi bantuan ke sejumlah wilayah tidak selalu berjalan merata.

“Hal itu yang membuat saya masuk keluar kampung untuk kasih bantuan. Saat itu juga kami bangun komunikasi dengan warga terkait lokasi mana saja yang belum tersentuh bantuan sehingga kami langsung terjun untuk bawa bantuan,” terang Dean.

Berbagi Sejak Duduk di Bangku SD

Dean mengatakan dirinya tidak ingin aktivitas kemanusiaan yang dilakukan dibandingkan dengan statusnya sebagai anak pejabat.

Menurut dia, kegiatan tersebut murni dilandasi rasa kemanusiaan sekaligus nilai yang diajarkan orang tuanya sejak kecil untuk selalu berbagi dan berbaur dengan masyarakat, baik dalam kondisi susah maupun senang.

READ:  Reuni Lamakera Harus Bermartabat, Ahmad Yohan: Lanjutkan Semangat Pendahulu

Ia mengaku telah terbiasa memberikan bantuan amal di berbagai tempat, mulai dari gereja, masjid hingga sekolah di Pulau Timor, Sumba, Rote Ndao, Sabu Raijua, Flores dan sejumlah pulau lainnya.

Kebiasaan tersebut, kata dia, telah dilakukan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Memang saya lahir dan besar di Jakarta, tetapi setiap kali liburan, bapak selalu bawa kami pulang ke Kupang. Jadi sejak saya masih SD itu sudah diajarkan untuk terus berbagi dengan masyarakat,” beber Dean.

Wabup Nagekeo Apresiasi Bantuan

Sementara itu, Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, mengakui bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan untuk masyarakat yang terdampak gempa.

Bantuan tersebut datang dari pihak swasta, yayasan maupun lembaga dari luar negeri.

“Kami sangat terbantu dengan apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman dari berbagai swasta, yayasan hingga luar negeri. Sejak awal kami sangat terbantu,” pungkas Gonzalo. (*) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *