Daerah  

Reuni Lamakera Harus Bermartabat, Ahmad Yohan: Lanjutkan Semangat Pendahulu

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua DPW PAN NTT, Ahmad Yohan, mengajak seluruh warga Lamakera untuk menjadikan reuni sebagai momentum yang bermartabat dan berorientasi pada masa depan.

KUPANG –  Momentum silaturahmi dan buka puasa bersama di Masjid Al Multazam, Kampung Maleset, Kelurahan Namosain, Kota Kupang, Sabtu (7/3/2026), juga menjadi ruang refleksi bagi warga Lamakera untuk menyambut agenda Reuni Lamakera 2026. 

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua DPW PAN NTT, Ahmad Yohan, mengajak seluruh warga Lamakera untuk menjadikan reuni sebagai momentum yang bermartabat dan berorientasi pada masa depan.

Di hadapan jamaah dan warga yang hadir, Ahmad Yohan yang juga dikenal sebagai salah satu ‘anak Lamakera’ dan tokoh masyarakat Lamakera menegaskan bahwa reuni tidak boleh hanya dimaknai sebagai ajang pertemuan atau nostalgia semata, tetapi harus menjadi momentum untuk melanjutkan semangat perjuangan para tokoh pendahulu.

Menurutnya, generasi sekarang harus meneladani perjuangan tokoh-tokoh Lamakera terdahulu yang mampu melahirkan gagasan besar meskipun dalam keterbatasan.

READ:  Wagub NTT Johni Asadoma Tantang Siswa SMK Sabu Barat: Stop Malas, Perbanyak Baca Buku dan Kuasai Bahasa Inggris!

“Salah satu tokoh yang patut kita teladani adalah Bapak H. Abdul Syukur Ibrahim Dasi. Mereka dulu jumlahnya sedikit dan penuh keterbatasan, tetapi memiliki ide-ide besar dan pandangan jangka panjang untuk kemajuan masyarakat,” ujar Ahmad Yohan.

Ia menegaskan bahwa generasi sekarang justru memiliki sumber daya yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya, baik dari segi jumlah maupun fasilitas. Karena itu, warga Lamakera di berbagai daerah harus mampu melanjutkan perjuangan tersebut dengan cara yang lebih baik dan bermartabat.

“Kita sekarang lebih banyak orang, lebih punya fasilitas, lebih punya akses. Maka seharusnya kita bisa berbuat lebih baik dan menghadirkan sesuatu yang lebih bermartabat bagi masyarakat Lamakera,” katanya.

READ:  Wagub NTT Turun Langsung Cek Aset Rumah Dinas, Dorong Optimalisasi PAD

Ahmad Yohan juga menekankan bahwa reuni Lamakera harus menjadi ruang untuk meneguhkan persaudaraan, bukan sebaliknya menjadi tempat saling menyalahkan atau memperuncing perbedaan.

“Reuni harus menjadi momentum untuk meneguhkan persaudaraan kita. Jangan sampai kita justru saling menyalahkan. Kita harus menjaga kebersamaan sebagai satu keluarga besar Lamakera,” tambahnya.

Dalam pandangannya, identitas Lamakera juga tidak boleh dimaknai secara sempit hanya pada batas administratif desa. Ia menegaskan bahwa Lamakera adalah identitas kultural dan genealogis yang dimiliki oleh banyak orang di berbagai daerah.

“Lamakera tidak boleh dimaknai secara sempit hanya mereka yang tinggal di dua desa, Watobuku dan Motonwutun. Lamakera adalah kita semua yang memiliki darah dan akar Lamakera, baik yang berada di Kupang, Jakarta, Makassar, Yogyakarta, maupun di daerah lainnya,” jelasnya.

READ:  Sentuhan Hangat Wagub NTT di Namosain: Buka Puasa Bersama Anak TPA, Tekankan Adab dan Semangat Belajar

Karena itu, ia mengajak seluruh warga Lamakera di perantauan untuk bersama-sama memikirkan program pemberdayaan yang nyata bagi masyarakat, sehingga reuni tidak hanya menjadi pertemuan simbolik, tetapi juga menghasilkan gagasan dan program yang berdampak bagi masa depan.

“Kita harus memikirkan program pemberdayaan yang nyata. Dengan begitu, Reuni Lamakera 2026 benar-benar menjadi reuni yang bermartabat dan membawa manfaat bagi masyarakat,” tegas Ahmad Yohan.

Kegiatan silaturahmi yang dihadiri ratusan warga tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Selain menjadi momentum berbuka puasa bersama, pertemuan itu juga mempererat hubungan antar warga sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai masa depan masyarakat Lamakera di berbagai daerah. (*) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *