Ba’a, kanalkita.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menyambangi masyarakat Lingkungan Feapopi, Kelurahan Onatali, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Minggu (13/9/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk menyerap langsung aspirasi warga sekaligus melihat kondisi sejumlah persoalan mendasar yang masih dihadapi masyarakat, terutama terkait akses air bersih.
Kedatangan Wagub Johni disambut Lurah Onatali, Jefri Balos, bersama puluhan warga. Dalam dialog bersama masyarakat, persoalan keterbatasan air bersih menjadi salah satu keluhan utama yang disampaikan warga.
Tokoh Masyarakat Lingkungan Feapopi, Daud, mengatakan persoalan air bersih telah dirasakan masyarakat secara turun-temurun.
“Masyarakat di sini masih mengambil air dari Mata Air Oenitas. Dari zaman raja sampai sekarang kami masih merasakan hal yang sama. Pemerintah dulu membantu mendekatkan air melalui program PNPM, tetapi air tidak bisa sampai ke rumah-rumah warga karena debit airnya kecil. Bak airnya juga tidak dilindungi dan sumur bor yang ada sekarang macet,” ungkap Daud.
Ia mengatakan berbagai upaya telah dilakukan, baik oleh pemerintah desa, pemerintah kabupaten, lembaga swadaya masyarakat maupun melalui program PNPM. Namun, upaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan air bersih secara tuntas.
“Krisis air ini sudah kami rasakan bukan hanya sejak Indonesia merdeka, melainkan sejak era kerajaan hingga sekarang. Berbagai upaya dari Pemdes, Pemkab, lembaga swadaya, hingga PNPM telah dilakukan namun belum berhasil. Pembangunan sumur bor juga sebelumnya ada yang gagal dan mangkrak,” tambahnya.
Kondisi tersebut membuat warga harus menempuh jarak cukup jauh untuk mengambil air dan membawanya secara manual menuju rumah.
“Warga di sini kalau mau ambil air harus turun ke bawah sini. Kalau habis mandi, nanti naik ke atas rumah sudah capek karena bawa ember,” ujarnya.
Selain persoalan air bersih, warga juga menyampaikan keluhan terkait lemahnya jaringan telekomunikasi seluler di wilayah tersebut.
Menurut warga, kondisi jaringan semakin buruk setelah infrastruktur telekomunikasi rusak diterjang Badai Seroja. Sejumlah wilayah bahkan mengalami blank spot, sementara sinyal di dalam rumah juga sangat lemah.
“Kebutuhan internet yang stabil sangat penting karena anak-anak sekolah kesulitan mengerjakan tugas. Pelayanan di kantor kecamatan juga terganggu,” kata Daud.
Menanggapi keluhan tersebut, Wagub NTT Johni Asadoma mengatakan pemerintah akan segera melakukan survei untuk mengetahui kondisi teknis sumber air dan infrastruktur yang ada.
“Kita akan kirim orang untuk survei terlebih dahulu. Bak penampungan bisa kita perbesar sehingga air bisa dipompa naik dengan kuat dan dialirkan langsung ke rumah-rumah warga. Kalau ada sumber air di sekitar sini, mungkin kita akan buatkan sumur bor baru,” tegas Johni.
Setelah berdialog, Wagub Johni bersama Lurah Onatali dan warga kemudian berjalan kaki meninjau langsung kondisi bak penampung air di lapangan.
Hasil peninjauan menunjukkan terdapat dua bak penampung air dengan kapasitas relatif kecil. Sebagian dinding bak juga mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut membuat aliran air dari Mata Air Oenitas belum dapat ditampung secara optimal. Sebagian air bahkan terbuang dan belum dapat dialirkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain kapasitas bak, kondisi kontur wilayah yang memiliki kemiringan juga menjadi kendala dalam mengalirkan atau memompa air menuju permukiman warga yang berada di dataran lebih tinggi.
Pembenahan infrastruktur air bersih tersebut diproyeksikan dapat memberikan manfaat langsung bagi sekitar 502 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Onatali dan wilayah sekitarnya.
Dalam kesempatan itu, Wagub Johni juga mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga kelestarian sumber air.
“Pemerintah berupaya membangun jalurnya, tetapi masyarakat juga harus bersama-sama menjaga kelestarian Mata Air Oenitas agar debit airnya tetap terjaga,” imbaunya.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTT memastikan berbagai persoalan masyarakat ditangani berdasarkan kondisi nyata di lapangan, termasuk kebutuhan dasar seperti air bersih dan akses jaringan komunikasi. (*)

