Minahasa, kanalkita.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menyaksikan langsung proses pengolahan energi panas bumi menjadi listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 5 dan 6 di Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Selasa (3/11/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTT mempelajari pengoperasian pembangkit listrik tenaga panas bumi sebagai referensi pengembangan energi terbarukan di NTT yang memiliki potensi panas bumi sangat besar, khususnya di Pulau Flores.
Mengenakan alat pelindung diri (APD) berupa wearpack, helm keselamatan, dan sepatu khusus, Johni bersama rombongan berkeliling area pembangkit. Mereka meninjau sejumlah fasilitas, mulai dari saluran uap, separator, turbin, generator hingga sistem penyaluran listrik.
Johni mengatakan, kunjungan tersebut bertujuan melihat secara langsung proses operasional PLTP sekaligus memahami dampak positif maupun negatif yang ditimbulkan dari pemanfaatan energi panas bumi.
“Kami datang untuk melihat langsung pengoperasian PLTP Lahendong dan dampak yang ditimbulkan, baik positif maupun negatif,” kata Johni.
Ia berharap pengalaman dari PLTP Lahendong dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat NTT, terutama dalam memahami peluang pengembangan energi panas bumi di daerah tersebut.
“Saya berharap ini menjadi pembelajaran yang baik bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mempunyai potensi pembangkit listrik tenaga panas bumi yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Dalam peninjauan itu, Johni juga mengamati kepulan uap putih yang keluar dari salah satu saluran pelepasan uap. Pihak PGE Lahendong menjelaskan bahwa kepulan tersebut merupakan uap air, bukan asap hasil pembakaran.
Pemeriksaan menggunakan alat pendeteksi gas yang diperlihatkan kepada Johni dan rombongan juga menunjukkan angka nol.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi operasional pembangkit sekaligus menjawab kekhawatiran terkait kepulan putih yang terlihat dari fasilitas PLTP.
Manager Business Support PGE Lahendong, Rinson Gultom, menjelaskan bahwa proses pembangkitan listrik dimulai dari pengambilan fluida panas bumi berupa campuran uap dan air dari sumur produksi. Campuran tersebut kemudian dipisahkan menggunakan separator.
“Air yang terangkat bersama uap dipisahkan. Setelah didinginkan, air tersebut kami injeksikan kembali ke perut bumi. Sementara uapnya digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik,” jelas Rinson.
Uap yang telah dipisahkan kemudian dialirkan ke turbin untuk menggerakkan generator. Listrik yang dihasilkan diteruskan melalui switchyard ke jaringan PLN untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Johni didampingi Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda NTT Selfi H. Nange, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral NTT Viktor Manek, serta Kepala Badan Penghubung NTT Jakarta Florida Taty Satyawati, ST.
Turut bergabung peneliti dari Purnomo Yusgiantoro Center, yakni Senior Consultant Farida Zed, Koordinator Departemen Penelitian Nadira Asrifa, serta staf peneliti Ahmad Munawir dan Hizkia Posumah.
Sementara dari PGE Lahendong, rombongan diterima Manager HSSE Lerry Wenur dan Manager Business Support Rinson Gultom bersama tim. (*)

